BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Panjang, Puncaknya Agustus
![]() |
| Foto: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani/ Istimewa |
Jakarta, khatulistiwa media – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa musim kemarau diprediksi mulai terjadi secara bertahap sejak April 2026 di sejumlah wilayah Indonesia.
Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Multi Hazard Early Warning System, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
“Indonesia memiliki total 699 zona musim. Berdasarkan analisis BMKG, musim kemarau tahun ini diprediksi mulai berlangsung pada April dan mencapai puncaknya pada Agustus,” ujar Faisal.
Menurutnya, kondisi musim kemarau tahun ini juga berpotensi lebih panjang dari biasanya. Hal ini dipengaruhi dinamika iklim global, termasuk kemungkinan munculnya fenomena El Niño pada pertengahan 2026.
BMKG mencatat sekitar 64 persen zona musim di Indonesia diprediksi mengalami kondisi di atas normal. Beberapa wilayah yang berpotensi merasakan dampaknya antara lain sebagian wilayah Kalimantan Barat, yang diperkirakan mengalami periode kemarau cukup kuat pada Juli hingga Agustus.
Faisal menjelaskan informasi ini disampaikan sebagai bentuk peringatan dini agar masyarakat serta pemerintah daerah dapat melakukan langkah antisipasi dan mitigasi.
“Informasi ini penting sebagai dasar bagi masyarakat untuk melakukan antisipasi serta bagi pemerintah dalam menyiapkan kebijakan jangka panjang,” jelasnya.
BMKG juga memberikan sejumlah rekomendasi, khususnya bagi sektor pertanian dan pangan. Petani diminta menyesuaikan pola dan masa tanam agar tetap produktif di tengah potensi musim kemarau yang lebih panjang.
Selain itu, masyarakat juga disarankan memilih varietas tanaman yang memiliki siklus tanam pendek serta lebih tahan terhadap kondisi ketersediaan air yang terbatas.
Di sisi lain, pemerintah diharapkan memperkuat berbagai langkah mitigasi, seperti revitalisasi waduk dan penyediaan sumber air bersih untuk menghadapi potensi kekeringan selama musim kemarau.
Upaya tersebut juga penting untuk menjaga pasokan energi, terutama dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah untuk mewaspadai kemungkinan penurunan kualitas udara serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode kemarau.
“Pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan, penurunan kualitas udara, serta risiko kebakaran hutan dan lahan,” kata Faisal.
BMKG berharap informasi prakiraan musim ini dapat menjadi acuan bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026.
Penulis : Yohanes Santoso
#BMKG #MusimKemarau2026 #CuacaIndonesia #MitigasiBencana #ElNino #Karhutla #KetahananPangan #KalimantanBarat
