Festival Budaya Perbatasan 2026 :Harmoni Tradisi di Beranda Negeri
![]() |
| Foto: Pembukaan Festival Budaya Perbatasan tahun 2026 di PLBN Badau, Kapuas Hulu, Sabtu (19/9/2026)/ Yohanes Santoso |
![]() |
| Foto: Setditjen Diplomasi Promosi dan Kerjasama Budaya, Undri |
Pembukaan festival menjadi awal dari rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 19–21 September 2026, di kawasan PLBN Badau. Beragam kegiatan budaya akan dihadirkan, mulai dari penampilan pertunjukan musik, gerai produk lokal, gelar wicara budaya, pemutaran film, lomba olahraga tradisional, hingga workshop tenun. Festival Budaya Perbatasan merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat. Sebelumnya, kegiatan ini telah dilaksanakan di Kabupaten Sambas pada 2023, Kabupaten Sanggau pada 2024, dan Kabupaten Bengkayang pada 2025. Tahun ini, Kapuas Hulu menjadi lokasi penyelenggaraan festival.
![]() |
| Foto: Seto, Pejabat yang mewakili Kepala Otoritas PLBN Badau |
Pemilihan Badau sebagai lokasi festival memiliki makna tersendiri. Sebagai salah satu kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia, Badau tidak hanya menjadi pintu keluar-masuk negara, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat dengan sejarah dan kebudayaan yang memiliki kedekatan lintas batas. Kawasan Kapuas Hulu, khususnya masyarakat Dayak Iban, memiliki hubungan sejarah dan budaya dengan masyarakat di wilayah Sarawak, Malaysia. Kondisi tersebut menjadikan perbatasan bukan sekadar garis yang memisahkan wilayah negara, tetapi juga ruang yang mempertemukan warisan budaya yang telah hidup dan berkembang secara turun-temurun. Melalui tema “Beranda Negeri Harmoni Tradisi”, kawasan perbatasan dipandang sebagai beranda atau wajah depan negara. Festival ini menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal sekaligus menunjukkan bahwa keberagaman tradisi di kawasan perbatasan dapat terus hidup berdampingan secara harmonis.
![]() |
| Foto: Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalbar, Juliadi |
Pada acara pembukaan, masyarakat dan para undangan akan disuguhkan sejumlah penampilan budaya lokal, di antaranya alat musik balikan banuaka taman kapuas, Tabak banuaka taman kapuas (lembang), sape’ dan talimaa, musik tradisional begendang mayok, penampilan seni dan tari silat belangkah. Rangkaian festival kemudian dilanjutkan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan komunitas budaya, pelaku seni, masyarakat, pelaku usaha lokal, serta berbagai pihak di kawasan perbatasan. Salah satunya adalah gerai produk lokal yang menghadirkan kerajinan tangan dan produk ekonomi kreatif sebagai bagian dari representasi kekayaan budaya masyarakat. Selain itu, festival menghadirkan Gelar Wicara Budaya dengan topik Tato Iban dan Sape’, pemutaran film produk bantuan pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat bertema kebudayaan Kapuas Hulu, lomba olahraga tradisional sumpit dan ketapel, serta workshop tenun yang dilaksanakan bekerja sama dengan penerima Dana Indonesiana.
![]() |
| Foto: Bupati Kapuas Hulu, Fransiskus Diaan |
Festival Budaya Perbatasan 2026 tidak hanya diarahkan sebagai pertunjukan budaya, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkuat ekosistem kebudayaan, membangun kemitraan, serta membuka ruang dialog dan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pelaku budaya, masyarakat, dan berbagai pihak di kawasan perbatasan. Melalui penyelenggaraan festival ini, kebudayaan diharapkan terus hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat perbatasan—bukan hanya untuk ditampilkan, tetapi untuk dikenal, dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Festival Budaya Perbatasan 2026: Beranda Negeri, Harmoni Tradisi.
Repost: Yohanes Santoso
Scr: Rilis Kementerian Kebudayaan RI




